Rabu, 16 Juli 2014

Posted by Rizmaya Ulimaz on 20.10 with No comments
Dahulu kala ada seorang saudagar kaya yang bernama Dampo Awang. Dia berasal dari Negara Cina. Dia ingin pergi kesuatu tempat untuk mengajarkan ajaran Kong Hu Cu dengan cara mengarungi samudera bersama para pengawal setianya. Suatu hari dia sampai di tanah jawa bagian timur. Dampo Awang sangat senang akan daerah itu sehingga dia bermaksud untuk berlabuh disana dan menetap sambil mengembangkan ajaran yang dibawanya. Suatu saat Dampo Awang bertemu dengan Sunan Bonang, Sunan Bonang adalah salah satu dari 9 wali yang
menyebarkan agama islam di tanah jawa. Pada saat pertemuan pertama kali itu, Dampo Awang sudah memperlihatkan sikap kurang baik pada Sunan Bonang. Dampo Awang takut jika ajaran yang selama ini dia ajarkan akan hilang dan digantikan dengan ajaran agama islam. Perlu diketahui bahwa Dampo Awang sudah terbiasa dengan orang awam di jawa sehingga dia dapat berbahasa dengan baik.Saat Sunan Bonang mau mendirikan Salat Ashar. Dampo Awang berfikir untuk mecelekai Sunan Bonang. Dia menyuruh pengawalnya untuk menaruh racun ke air putih dalam kendi yang berada diatas meja. Setelah selesai shalat Sunan Bonang menuju ke meja makan. Dampo Awang mengira bahwa Sunan Bonang akan meminum air dalam kendi tersebut. Tetapi dugaan Dampo Awang keliru, sebenarnya Sunan Bonang mau mengaji. Hari demi hari telah berlalu, setiap waktu shalat Sunan Bonang mengumandangkan adzan dan shalat, setelah shalat Sunan Bonang mengaji diteras rumahnya. Setiap orang – orang yang lewat di depan rumahnya dan mendengar suara Sunan Bonang saat mengaji dan adzan menjadi kagum akan ayat – ayat alllah. Kemudian banyak penduduk menjadi pemeluk agama islam. Lama – kelamaan pengikut sunan semakin banyak. Tidak lama kemudian Dampo Awang mendengar peristiwa tersebut dia sangat marah karena pengikutnya semakin berkurang lalu Dampo Awang mengirim pengawalnya untuk menjemput Sunan Bonang . Mula – mula Sunan Bonang menolak tetapi karena dia merasa kasihan akan pengawal – pengawal Dampo Awang, jika Sunan Bonang tidak ikut mereka akan dihukum pancung. Akhirnya Sunan Bonang bersedia untuk datang ke kediaman Dampo Awang. Saat Sunan Bonang tiba di kediaman Dampo Awang, Dampo Awang menyambutnya dengan ramah. Namun dibelakang dari keramahan tersebut Dampo Awang telah merencanakan sesuatu. Dampo Awang menyuguhi Sunan Bonang dengan buah – buahan segar, makanan enak, minuman lezat, dll. Sunan Bonang tidak menaruh curiga sedikitpun kepada Dampo Awang, padahal Dampo Awang berniat mencelakainya. Saat ditengah perjamuan, tiba – tiba Dampo Awang meminta agar Sunan Bonang meninggalkan daerah itu. Tetapi Sunan Bonang menolak karena dia sudah berniat untuk mengajarkan agama islam di daerah itu. Dampo Awang sangat marah mendengar ucapan Sunan Bonang yang baru saja diucapkannya tadi. Lalu Dampo Awang menyuruh pengawalnya untuk menyerang Sunan Bonang
tetapi dengan waktu yang sangat singkat Sunan Bonang dapat mengalahkan pengawal – pengawal Dampo Awang. Dampo Awang tidak terima akan kekalahannya. Dia kembali ke negaranya untuk menyusun stategi dan kekuataan baru.Setelah beberapa tahun Dampo Awang kembali lagi ke tanah jawa sambil membawa pasukan yang lebih banyak dari sebelumnya. Pada saat sampai di tanah jawa dia sangat kaget sekali karena semua penduduk didaerah itu sudah menganut agama islam. Dampo Awang marah lalu mencari Sunan Bonang. Dampo Awang tidak bisa menahan amarahnya ketika dia sudah bertemu dengan Sunan Bonang sehingga dia langsung menyerang Sunan Bonang lebih dulu tetapi dengan singkat Sunan bisa mengalahkan Dampo Awang dan pengawalnya. Kemudian Dampo Awang diikat didalam kapalnya setelah itu Sunan Bonang menendang kapalnya sehingga seluruh bagian kapal tersebar kemana – mana. Setelah itu sebagian kapal terapung di laut. Dampo Awang menyebutnya “ Kerem ( Tenggelam ) “ sedangkan Sunan Bonang menyebutnya “ Kemambang ( Terapung ) “. Kemudian lama – kelamaan masyarakat mengucapkan Rembang yang berasal dari kata Kerem dan Kemambang. Akhirnya di daerah itu dinamakan Rembang yang sekarang menjadi salah satu Kabupaten yang ada di Jawa Tengah.Jangkarnya sekarang ada di Taman Kartini sedangkan Layar kapal berada dibatu atau biasanya sering disebut “ Watu Layar “ dan kapalnya dikabarkan menjadi Gunung Bugel yang ada di kecamatan Pancur karena bentuknya menyerupai sebuah kapal besar dan diatas Gunung ada sebuah makam konon disana merupakan makam Dampo Awang.

Perlu diingat asal – usul kota rembang banyak versinya
sehingga tidak setiap orang mengetahui asal – usul kota
Rembang yang sama versinya.

Semoga bermanfaat….smile

Senin, 14 Juli 2014

Posted by Rizmaya Ulimaz on 20.38 with No comments


Jikalau aku menghabiskan waktu berlibur akhir pekan di Hari Sabtu pagi, dan yang karena ‘terpaksa’ seketika menjadi single parent sementara buat putriku yang (sementara juga) masih semata wayang, sering kupilih Taman Rekreasi Pantai (TRP) Kartini, yang lebih akrab disebut Pantai Kartini, Rembang untuk bercengkerama berdua. Setelah men-drop ‘si dia’ di kantornya, segera kuputar arah kendaraanku menuju Pantai Kartini Rembang. Dengan tiket Rp2.000,00 per pengunjung plus bea parkir yang sama nominalnya, pintu gerbang sekunder pun dibuka, mempersilahkan kami menjelajahi setiap sudut obyek wisata di pesisir Laut Jawa ini. Sengaja kami memilih bukan gerbang utama, karena kami tak mau berpenat ria berjalan kaki menuju lokasi pantai yang masih lumayan jauhnya dari gerbang utama. Lebih enakan lewat pintu samping yang berbatasan langsung dengan Gedung DPRD Kabupaten Rembang, karena kendaraan pun bisa turut menikmati keindahan pantai.


Berdasar catatan sejarah, keberadaan Pantai Kartini tidak bisa dipisahkan dari masa kolonialisme Belanda sewaktu masih bercokol di bumi Jawa. Ini terbukti ditemukannya catatan tahun di bangunan kuno di dalam kawasan wisata unggulan Kabupaten Rembang, yang konon dulu adalah tempat pesta dan gedung pertemuan Nederlander. Menurut informasi Dinas Pariwisata Rembang, di atap gedung tua ini tertulis tahun 1811, sebagai penanda kapan artefak bangunan peninggalan Gubernur Jendral HW Deandels didirikan. Gubernur yang berkuasa di rentang tahun 1808-1811 ini adalah pemrakarsa mega proyek Jalan Pantura Anyer-Panarukan. Berhubung Kota Rembang termasuk daerah yang terkena lintasan proyek prestisius di jamannya kala itu, maka ada beberapa peninggalan Belanda yang masih tegak berdiri, termasuk Pantai Kartini, yang saat itu difungsikan sebagai taman rekreasi bagi orang-orang Walondo yang bermukim di Rembang, sekaligus tempat untuk memantau situasi lalu lintas pelayaran di Laut Jawa.



Bisa dikatakan, Pantai Kartini adalah ikon kebanggaan Kota Rembang. Obyek wisata yang terletak Di Desa Tasikagung Kec. Rembang, semakin ramai oleh wisatawan, terlebih di hari libur nasional atapun kalender pendidikan. Posisinya yang  berada di jalur padat Semarang-Surabaya, menjadi tempat yang mengasyikkan untuk singgah mengistirahatkan diri bagi yang sedang melakukan perjalanan darat.  Meski namanya tidak setenar Pantai Pangandaran Jawa Barat, dan jumlah wisman pun bisa dihitung dengan jari setiap tahunnya, tapi bagi sebagian besar wisatawan ‘interlokal’ (maksudnya kota tetangga sekitar), keberadaan Pantai Kartini masuk nominasi kuat sebagai daerah tujuan wisata bagi  keluarga yang pergi berlibur. Apalagi beberapa tahun belakangan ini, Pantai Kartini terus berbenah, merias diri, menata ulang dan  menambah fasilitas bagi kenyamanan pengunjung sehingga betah berlama-lama menikmati setiap pesona yang dihidangkan obyek wisata yang pantas disebut situs sejarah ini.


 Apa saja daya tarik TRP Kartini?


1. Wisata Bahari

Namanya wisata bahari, tentulah pemandangan laut lepas yang terbentang luas. Banyak pengunjung, terutama anak-anak menikmati suasana pantai dengan berenang sambil bersendau gurau, bermain ombak, berkotor ria dengan pasir, tanding bola, berlayar naik perahu atau terlihat sepasukan keluarga sekedar berteduh dan bersantai di bawah pepohonan nan rindang di tepian laut. Pantai yang berpasir bersih dengan debur ombaknya yang ramah, menjadikan kawasan pantai Kartini tempat yang cocok dan aman bagi berlibur.

2. Jangkar Dampo Awang

Di TRP Kartini terdapat jangkar kapal raksasa, yang sekarang dimuseumkan, ditempatkan di areal tersendiri di bangunan gardu di atas laut Jawa. Sebagai masyarakat Jawa yang kental nuansa cerita legenda dan olah pikir otak atik gatuk, keberadaan jangkar raksasa ini pun tak lepas dari kisah rakyat 
turun temurun. Konon, ketika Sam Phoo Kong (lebih dikenal dengan nama Dampo Awang), utusan dari Kerajaan Cina berlayar melintas di Perairan Rembang dalam rangka ekspedisi ke selatan, kapalnya diterjang badai gelombang sehingga rusak berat dan terhempas ke daratan. Rantai jangkar lepas dan terdampar di Pantai Rembang, sedang layarnya tertiup angin dan jatuh di Pantai Binangun, Sluke (20 km sebelah timur Pantai Rembang), dan dikenal dengan sebutan watu layar. Sedang badan kapal yang karam dan tertimbun lumpur dan tanah bebatuan di daerah Lasem, membentuk sebuah bukit yang sekilas mirip kapal terbalik, yang oleh masyarakat sekitar dinamai Bukit Bugel.
Demi mengingat peristiwa bersejarah itu,  Pengelola TRP Kartini menomumenkan jangkar Dampo Awang sebagai simbol semangat bahari dan jiwa pelaut masyarakat pesisir Rembang.

3. Wahana Bermain Anak
Demi memanjakan segmen pengunjung anak-anak, Pantai Kartini melengkapi diri dengan arena bermain anak, semisal wahana mandi bola, bebek air, ayunan, kereta mainan, komedi putar dan gardu pandang. Semenjak 2002, telah dibangun kolam renang “Putri Duyung” di dalam kompleks tempat wisata yang terletak tepat di jantung Kota Rembang.       

4. Syawalan
Setahun sekali, terdapat tradisi syawalan, tepat seminggu setelah Hari Raya Lebaran Idul Fitri, yang dipusatkan di Pantai Tasikagung. Momen inilah puncak keramaian Pantai Kartini,  di saat euphoria berlebaran warga Rembang dan kota-kota sekitarnya masih meluap-luap setelah menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Area seluas 5 ha seakan tak mampu menampung pengunjung yang meluber, larut merayakan tradisi syawalan. Dan yang menjadi tujuan nomor wahid bersyawalan adalah lomban, naik perahu layar berjamaah hingga ke daratan nusa  nan eksotis, yakni Pulau Marongan, kurang lebih berjarak 5 mil dari pantai Kartini.
Maka, tepatlah jika aku memilih TRP Kartini Rembang sebagai tempat menjalin kedekatan dengan anak, mengentertain mengisi dunia kecilnya dengan bermain dan menghadirkan aura keceriaan, dan sekaligus mengenalkan buah hatiku terhadap alam lingkungan. 
Posted by Rizmaya Ulimaz on 20.19 with 1 comment






























Minnie Mouse

animasi bergerak gif


Popular Posts

Recent Posts

Pages

Recent Posts

Recent Comments

Panah


Blogger news

Lorem ipsum

Download

wdcfawqafwef

Unordered List

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

About Me

Foto Saya
Rizmaya Ulimaz
Hello sobat , Namaku Rizmaya Ulimaz, aku biasa dipanggil Ayu tapi.. kalau disekolahku yang sekarang ini aku biasa dipanggil Maya. Aku lahir 18 Mei 1997 , ya agak tuaan dikit lah sobat. Aku duduk dikelas XII TKJ. Aku sekolah di SMK Wikrama 1 Jepara. Aku asli Rembang sobat .. tapi aku sekolah di Jepara, ya biar nambah pengalaman aja. Udah itu aja sobat sambutan dari aku.. Bye bye :)
Lihat profil lengkapku

Followers

Followers

About Me

Foto Saya
Hello sobat , Namaku Rizmaya Ulimaz, aku biasa dipanggil Ayu tapi.. kalau disekolahku yang sekarang ini aku biasa dipanggil Maya. Aku lahir 18 Mei 1997 , ya agak tuaan dikit lah sobat. Aku duduk dikelas XII TKJ. Aku sekolah di SMK Wikrama 1 Jepara. Aku asli Rembang sobat .. tapi aku sekolah di Jepara, ya biar nambah pengalaman aja. Udah itu aja sobat sambutan dari aku.. Bye bye :)

Popular Posts

Copyright © Dampo Awang Beach | Powered by Blogger
Design by Rizmaya Ulimaz | Blogger Theme by Rizmaya Ulimaz